Jumat, 27 Mei 2016

Sebab Aku Menyukaimu

Sebab aku menyukaimu. . .
kala mata tak pernah bisa bertemu, hati selalu berseru rindu
ada sakit yang tak terbalas berujung sendu
aku merindu hingga sesak memenuhi kalbu

Sebab aku menyukaimu. . .
jarak yang rumit membuatku semakin sakit
sekat yang timbul menjadikannya sulit
tiada harapan dibalik kenyataan pahit

sebab aku menyukaimu. . .
kala waktu tak lagi bersahabat
suaramu lah yang bisa menjadi obat
pertemuan bisa menjadikannya hebat
berharap agar semua tak terlambat




Bekasi, 27 Mei 2016
23:00
/Heranita Novelly/

Kamis, 07 Januari 2016

Rintik Sendu Membawa Rindu

Bau rindu mengusikku dalam kesendirian
Rintik air membawa ingatan akan kenangan
Teringat akan dirimu di sudut taman
Membawa secarik kertas untuk kutuliskan

Ku tulis sajak rindu untukmu
Berharap kau kembali pada malam kelabu
Namun yang ku temu hanyalah semu
Terlalu tabu untuk ku tunggu


Kamis, 26 November 2015

Terjebak Nostalgia

Sudah hampir setahun berlalu
Namun kenangan itu masih terus ada
Menggerogoti pikiran dan peraasaan
Akupun tak mengerti mengapa begini

Hey masa lalu !
Mengapa kau datang disaat aku sudah mulai melupakanmu
Memberi harapan yang tak pasti
Namun  aku hanyalah gadis bodoh
yang terjebak dalam naskah cintamu

Hey masa lalu !
Tidakkah kau ingat betapa jahatnya dirimu
Menggantungkan harapan yang hanya menjadi angan
Kini kau pergi lagi, dan lagi
Ku harap kau tak kembali


17 April 2015
5:35 AM
-HN-

Selasa, 17 November 2015

Terima Kasih Sudah Pernah Singgah



            Teruntuk kamu yang pernah singgah di hari, hati, dan pikiranku. Aku hanya ingin menyapamu kembali. Mengusik rasa yang dulu pernah ada, yang sudah kusimpan jauh dan ku kubur dengan dalam. Tapi sesudah aku mengingatmu dan mengajakmu kembali pulang, kau harus segera kubunuh dari ingatan. Terima kasih untuk beberapa bulan belakangan ini. Oh iya, apakah kau tau bagaimana keadaanku kala kau pergi? Hari ku menjadi tak ceria. Hariku selalu teduh dipenuhi sendu. Aku tak pernah menyangka akan begini akhirnya. Keceriaan yang selama ini kau beri, sekarang berubah menjadi hal yang tak menyenangkan bagiku. Nyatanya disini akulah orang yang paling mencinta, sedangkan kau? Sudah kuduga kau tak akan sama seperti ku. Kau hanya mencintaiku seperlunya. Aku merasa ini tak adil, kau yang hanya mencinta sepersekian persen, sedangkan aku mencintaimu seratus persen. Berkali-kali aku menjatuhkan hati pada seseorang yang kupikir dapat membuat bahagia, nyatanya hanya memberi luka. Kebodohanku yang selalu memaafkan, kau buat menjadi tameng pelindung. Awalnya kupikir menerima segala keburukanmu adalah hal yang wajar dalam konteks mencintai, namun ternyata itu menjadi bumerang.

Sekarang aku membencimu. Kau sudah tak sepantasnya aku ingat, dan kau sudah tak pantas lagi menjadi hal yang aku rindukan. Sekali lagi kau sudah tak layak untuk ku kenang. Jahat memang, tapi sudah seharusnya aku melakukannya. Terima kasih untuk beberapa bulan belakangan ini. Terima kasih sudah datang kemudian pergi. Terima kasih sudah mengajariku banyak hal akan kehidupan. Terima kasih sudah memberi arti akan menunggu, bersabar, mencinta, dan bahagia.

Terima kasih sudah pernah singgah, Tuan.



Bekasi, 18 Oktober 2015



Kamis, 02 April 2015

Rindu Ini

Hai...
Selamat Pagi

Ingin rasanya aku menyapamu dengan sapaan sederhana, membuat obrolan singkat yang penuh makna sebelum kau berangkat sekolah. Ya, seperti yang kita lakukan dulu. Setelah menunaikan sholat subuh kau mengirimiku pesan singkat yang berisi sapaan hangat " Morning" . Kita berkirim pesan singkat hingga kau sudah berada di sekolah. Selama pelajaran berlangsung aku tak ingin mengganggumu, aku hanya mengingatkanmu makan jika jam 12 tiba, saat kau istirahat kedua. mengingatkanmu jangan lupa sholat maghrib jika jam menunjukan pukul 18:15 .


Selamat Malam
Biasanya kau mengirimiku pesan singkat pukul 20:00 hanya menanyakan " lagi apa" atau " kamu udah makan" seperti tak ada topik pembahasan lain, dan hal itu kita lakukan terus menerus tanpa ada kata bosan. Rasa rindu akan Kebiasaan dirimu yang selalu meninggalkanku tidur terlebih dahulu, dan karena terlalu sering kau melakukannya hingga diriku menjadi terbiasa. Ucapan " Good night" pun baru kau balas keesokan pag, itu sudah menjadi hal yang lumrah bagiku.


 4 hari berlalu tanpa sapaan hangat darimu rasanya hariku kurang lengkap. Tapi aku sadar, sekarang kita sudah masing-masing. Meratapi Kepergianmu hanya akan membuang waktu saja. Memaksakan kehendak agar kau bisa kembali disampingku hanya akan membuat diriku menjadi egois. Merelakanmu merupakan jalan terbaik. Untuk saat ini aku sangat mengerti kondisimu hatimu yang masih labil.


-Setitik Goresan pena dari yang merindukanmu
@NovellyHN
2 April 2015




Selasa, 10 Maret 2015

Mau kamu apa ? Part 2

Dila masih tak mengerti dengan kemauan Denis. Mungkin Denis ingin mendekatinya lagi tetapi ia juga tak mau melepas Diandra. Dila pun masih tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Padahal sewaktu Denis memutuskannya hati Dila biasa saja, tapi entah mengapa akhir-akhir ini hati Dila selalu sakit jika melihat Denis mengganti status dan display picture nya di BBM.
" Dil lo abis nangis ya?"
" Engga"
" Gak usah bohong lo, mata lo bengkak tuh. kenapa lagi sih Dil ini kan udah memasuki minggu ketiga lo putus sama dia"
" Iya gue tau, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini hati gue selalu sakit tiap kali gue liat Denis ganti DP BBM sama update status"
" Ya ampun Dilaaa, mending lo DC aja deh tuh orang, daripada lo gini mulu. Gak capek emang?"
" Gak ah, gue gak mau DC Vin, gue masih pengen berhubungan baik sama dia walaupun kita udah putus"
" Ya elo bisa welcome sama dia, tapi dia? Inget Dil, dia udah jahat sama lo Dilaaaaa!!"

Vina  yang tak ingin melihat sahabatnya begini membuat cara agar Dila tak selalu terpuruk dalam kesedihan. Dila pun masih tetap mempertahankan kontak Denis di BBM nya. 
seiring berjalannya waktu, akhirnya Dila pun sudah bisa merelakan kepergian Denis. Dila tersadar sendiri karena semuanya hanya sia-sia.

" Gimana? Capek sendiri kan lo?"
" Iya sekarang gue sadar Vin, cuma buang-buang waktu aja gue kalau masih pikirin dia"
" Nah tuh tau. Dengerin gue, semua butuh proses Dil. Berangsur-angsur lo juga akan lupa sama Denis."
nasihat yang selama ini diberikan oleh sahabatnya baru bisa dicerna Dila sekarang,

kegiatan kampus yang semakin padat membuat Dila lupa tentang memori yang pernah ia alami, dan ini menjadi hal yang bagus  dalam proses Move on Dila.


2 April 2015   

Selasa, 17 Februari 2015

Penantian

-Penantian- 

Kau tahu dalam diam
Menyimpan dalam bungkam
Menanti dengan angan
Menunggu itu menyakitkan,bukan?

Mataku sulit terpejam
Kala kegelisahan menghampiri malam 
Entah sampai kapan aku harus menanti
Ketidakpastian yang tak berarti


                             -Heranita Novelly-